Kamis, 17 November 2011

Menjajal Trek Sepeda Di Cikidang Sukabumi

Ini dia buat para goweser, Trek Cikidang Sukabumi. Abis gowes bisa langsung rafting juga lho di Citarik..ayo jajal serunya gowes plus rafting!! tulisan ini saya kutip dari www.sepeda.sportku.com yang ditulis oleh Achmad Fauzie..Check it out..



Anda penggila sepeda gunung atau mountain bike? Rasanya belum lengkap kalau Anda belum menjajal trek yang satu ini. Lintasan sepanjang 11 kilometer (km) ini ada di daerah Cikidang, Sukabumi, Jawa Barat.

Jalur yang membentang dari Desa Cikajang hingga Cigelong ini membelah perkebunan kelapa sawit, karet, dan teh, hutan kecil, serta areal persawahan. Arus Liar Adventures yang mengelola trek itu baru memperkenalkan jalur tersebut pada pertengahan bulan lalu.

Titik start trek yang sangat menantang ini berawal di sebuah tempat di Cikajang yang oleh masyarakat sekitar disebut Warung Bensin. Lintasan ini terbagi dalam dua jalur: Cikajang-Bukit Balata dan Bukit Balata-Camping Ground. Jalur pertama sejauh 6 km merupakan jalan tanah dan batu macadam alias batu lepas yang menyusuri perkebunan kelapa sawit. Jalurnya menurun. Jadi, anda hanya sesekali mengayuh atau pedaling.

Cuma awas! Benturan batu dengan ban sepeda anda bisa mengakibatkan ban bocor. Risiko jatuh karena menabrak batu lepas juga bisa saja terjadi. Makanya, anda sangat disarankan membawa ban serep dan melengkapi diri dengan body protector terutama pelindung sikut dan pelindung dengkul.

Meliuk-liuk di antara pohon sawit dengan jalur menurun merupakan tantangan tersendiri. Tapi, sayang kalau Anda langsung melahap trek sejauh 6 km itu tanpa sesekali istirahat. Sebab, pemandangan pegunungan dari jalur ini terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. Di sisi utara ada Gunung Halimun dan sebelah utara Gunung Gede Pangrango.

Di akhir etape pertama, menjelang Bukit Balata, Anda bakal disuguhi tanjakan landai dengan panjang 500 meter. Sebelum melanjutkan jalur berikutnya, Anda bisa melepas lelah sejenak di Bukit Balata.


Rombongan JournalisMtb yang berjumlah 20 orang seperti ular yang meliuk-liuk diantara pohon-pohon sawit. Sesekali istirahat melepas lelah sambil menikmati keindahan bumi Cikidang. Keindahan dan kecantikan alam pegunungan digugusan gunung halimun di sisi selatan gunung Pangrango tidak kalah bagus dengan daerah lain di kawasan Jawa barat. Hamparan hutan kelapa sawit, karet dan kebun teh, menambah kesejukan udara kawasan tersebut.

Di ahir etape pertama akan di suguhi tanjakan landai sepanjang 500 meter. Etape pertama ini panjangnya sekitar 6 km berakir di kawasan sumur. Lokasi ini bisa sebagai titik awal bagi pengendara yang menghendaki jalur pendek. Di tempat ini kita bisa istirahat melepas lelah setelah melibas tanjakan.


Mulai jalur sumur ini akan terlihat trek yang di buat oleh pengelola Arus liar. Trek dengan lebar sekitar 1 meter ini aman bagi pengendara sekalipun bagi pemula. Jalur kedua merupakan jalur tanah sepanjang 5 km dengan kemiringan sekitar 30 derajat . memasuki jalur ini kemapuan teknik dalam mengendarai sepeda akan diuji. Jalur ini disebutnya single trek atau jalan setapak.Beberapa bagian akan akan di temukan gap (turunan berundak ) dan belokan tajam. Anda diharapkan konsentrasi dengan jalur ini. Salah-salah 'lepas kontrol' akan terjatuh. Apabila anda tidak mau menyia-nyiakan keindahan alam lebih baik berhenti di beberapa spot yang bagus sambil istirahat.

Sayang sekali keindahan alam Cikidang dilewatkan begitu saja. Di jalur kedua ini kalau boleh dibilang surganya penggiat sepeda, karena jalurnya tanah keras, berbelok menyusuri jalur setapak dan menurun.Di beberapa jalur, kiri kananya terdapat lembah dan jurang yang cukup dalam sehingga harus extra hati-hati. Namun demikian di jalur ini kita bisa mengoptimalkan gowesan lebih kencang sambil menguji kemampuan bersepeda kita.Yang perlu di wasapadi adalah orang kampung yang mencari kayu bakar, salah-salah bisa menabrak mereka.Karean jalur yang dilewati adalah jalur mereka mencari kayu bakar. Tipnya adalah sambil menggowes sambil berteriak meluapkan kegembiaraan kita sehingga akan menarik perhatian orang yang ada di jalur sepeda itu.


Jalur ini termasuk aman dari batu-batu yang menghalangi perputaran roda sepeda.sehingga kita bisa lebih menambah kecepatan dalam menggowes. Tapi tetap harus waspada, pengalaman dengan teman yang kurang memperhatikan jalur sempat bocor ban karena roda menghantam batu yang tidak terlihat. Jalur ini jauh dari kampung penduduk , jadi harus membawa perbekalan yang cukup seperti minuman dan snack.


Menjelang etape kedua berakhir kita bisa beristirahat di sebuah gubuk penduduk sambil melepas lelah dan membuka perbekalan. Disamping air putih yang cukup, perbekalan yang layak di konsumsi adalah coklat dan pisang. Kedua asupan ini cepat menggantikan energy yang terbuang saat bersepeda.
Di 3 km etape terakhir menjelang finish terdapat trek downhill (trek menurun tajam dan memiliki belokan tajam) yang sangat menarik.

Di trek ini anda benar-benar diuji kemampuan mengendalikan sepeda. Beberapa tikungan dilengkapi berm (gundukan tanah miring) agar pengendara enak bermanuver saat menikung. Apabila anda baru sekali melewati jalur ini dianjurkan melakukan rolling (menurun pelan sepanjang jalur sambil menghafal karakter jalan). Dengan rolling ini kita mengenal karakter jalur yang akan kita lewati. Setelah di rasa mengenal, anda bisa mengulang di trek ini beberapa kali.bahkan sampai bosenpun boleh. Turunan dengan elevasi kemiringan 70 derajat sangat memerlukan keberanian melewatinya. Jalur ini akan berakhir di camping Ground Arus Liar.


Usai sepedahan kita bisa istirahat sambil menikmati ubi dan kacang rebus ala cikidang.

Oh ya, untuk bermain sepeda di kawasan ini sepeda yang di sarankan adalah jenis Xross Country (XC), All mountain (AM) dan freeride atau downhill (DH). Sepeda jenis ini yang bisa menaklukan alam Citarik dengan nyaman. Walaupun Arus Liar menyediakan sepeda untuk digunakan, pengalaman saya, membawa sepeda sendiri akan lebih baik. Dengan sepeda yg kita bawa, kita lebih nyaman dan yakin dengan kemampuan sepeda yg kita gunakan.


Rafting usai Bersepeda
Pada saat kita bermain sepeda, keluarga yang kita tinggal di kawasan arus Liar, mereka bisa bermain outbond. Seperti bermain di sawah menanam padi, menangkap ikan di kolam atau yang lainnya.Sehingga kita beresepeda sambil membawa keluarga rasanya bukan barang aneh di Arus Liar ini.
Setelah setengah hari bermain sepeda, saatnya menikmati keelokan sungai Citarik , bermain Arung Jeram bersama Keluarga. Kami datang ke arus Liar bersama keluarga besar JMTB (journalisMTB). Sekaligus sebagai ajang silaturahmi sesama anggota.
Semua anggota mendapat jatah rompi pelampung dan mendapat berifing yang diperlukan sebelum bermain rafting. Karena kondisi debit air yang kurang tinggi, satu perahu diisi dua penumpang satu guide atau pengemudi.setelah berdoa kamupun mesuk ke perahu masing masing.


Menyusuri sungai Citarik menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi putra-putri kami.Meraka bisa berteriak sambil main dayung mencipratkan air ke perahu lainnya.Ayunan arus sungai mengakibatkan sebagian ibu-ibu menjerit antara takut dan senang.
Menurut pengelola Arus Liar, sungai citarik masuk kategori Dalam klasifikasi tingkat kesulitan yang ditetapkan secara international, sungai citarik masuk dalam klasifikasi peringkat IV atau menengah – tinggi. Walaupun arusnya tidak begitu besar karena musim kemarau, tidak mengurangi keceriaan acara keluarga ini. Dibeberapa bagian anak-anak malah turun dari perahu terjun ke kesungai untuk berenang. Suasana begitu ceria dan menyenangkan bersam keluarga. Jarak arung jeram yang kami lakukan hanya 6 km selama kurang lebih 2 jam.


Pada akhir perjalanan rombongan kami disuguhi kelapa muda yang baru dipetik. Sambil menikmati pemandangan alam pedesaan di pinggir sungai citarik, rasanya sempurna sekali permainan hari ini.
Hingga tidak terasa malam haripun tiba.kami harus balik ke kemping ground sambil menyalakan api unggun dan menikmati aneka hidangan ala citarik.

Oh ya, Arus liar memperkenalkan jalur sepeda sepanjang 11 km bagi tamu-tamunya untuk menambah wahana petualangan yang ada sebelumnya. selama ini dikenal sebagai penyelenggara kegiatan luar ruang seperti Rafting atau arung jeram, bungalow camping ground.outdbon. paint ball, selancar sungai dll.


Makanya bagi penggiat sepeda tidak usah ragu membawa anggota keluarga ke kawasan ini. Pada saat kita bermain sepeda, anak dan istri bisa menikmati wahana yang ada di sini.


Lokasi :Untuk mencapai Kawasan Arus Liar anda tinggal arahkan kendaraan arah sukabumi selepas tol Ciawi Bogor. Setelah melewati daerah Parung Kuda anda tinggal mencari pertigaan untuk jalan tembus ke Pelabuhan ratu.Papan Arus Liar Cikidang terpampang sangat jelas. Dari pertigaan in, jalan mulus berkelok naik dan turun sepanjang 20 km. Di tepian Sungai Citarik kawasan Arus Liar berada.

Menembus Kaki Geger Bentang Ke Sungai Cikundul-Cibodas

"Melewati kaki Geger Bentang sampai menembus Taman Mandalawangi, menuju Selaras sampai akhirnya bertemu Lapangan Golf Cibodas dan pemberhentian terakhir ngecamp di sisi Sungai Cikundul" Walaupun gowesnya cuma bertiga tapi team supportnya banayk,hee.. dimulai dimalam hari start gowes dari stasiun bogor sampai Mall Botani Square. Disinilah kita mulai me-loading sepeda kita di Land Rover kesayangannya Bang Rizal Bustami. akhirnya beberapa jam kemudian sampailah di Cibodas tepatnya di Bale Cantigi rumahnya Bang Rizal sekaligus Basecamp temen-temen di Cibodas.
Kenalin dulu ya ini dia Tim Penggowesnya, Bang Ombing, Bang Heri dan Gembos (saya sendiri). nah untuk tim supportnya ada Bang Juned dan Bang Budi sebagai supporting yang mendirikan tenda sampai memasak,hee. Kita memulai perjalanan ini dari belakang sebelah kiri pintu masuk Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). melewati kebun warga dan akhirnya sampai di kaki Geger Bentang. kami terus menelusuri jalan ini untuk menuju Sungai Cikundul yang di Lapangan Golf Cibodas. sebenarnya seh gampang aja kalau dari Basecamp Cantigi ke Sungai Cikundul lewat Cibodas Golf Park cuma butuh waktu 20 menit tapi kan itu dilarang karena takut merusak rumput-rumput lapangan golf. sedangkan waktu yang kita tempuh dengan cara memotong jalan sampai 7 jam (udah termasuk berleha-leha). Menyusuri Hutan Geger Bentang, melewati sungai bertemu air terjun (yaa walaupun gak terlalu besar)dan akhirnya menembus Taman Mandalawangi Cibodas. Disini kita istirahat dulu sebelum menjajal trek sepedanya Taman Nasioonal Gunung Gede.
Sesudah istirahat, langsung tancap pedal melewati trek sepeda yang masih belum selesai proyeknya. tapi lumayan juga, tanah liat merah yang basah bercampur jalan bebatuan yang tertata rapih. buzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz...dengan kencang kami semua mengayuh pedal kami. tibalah kami di Selaras tempat rumah-rumah saung didalam hutan. keren banget tempatnya tapi sayang tidak rawat jadinya terlihat bangunannya rusak. setelah melewati Selaras kami melewati sungai lagi sebelum sesampainya di Cibodas Golf Park (lapangan Golf). Trek yang berumput dan basah membuat kami agak sedikit sulit menggowesnya karena lebih berat terutama dijalanan yang agak menanjak sehingga membuat kami harus TTB (tun tun bike) alias mendorongnya,he. Trek lapangan Golf kita terus mengambil jalan melipir kekiri hingga bertemu sungai. Nah, sungai inilah yang disebut Sungai Cikundul. Terhampar luas kebun-kebun warga dan dilatari Gunung Pangrango, sangat indah dinikmati pemandangan ini. di kebun yang tidak terpakai inilah tempat kami camp.
menikmati dinginnya malam beratapkan bintang membuat susana mengopi kami tambah nikmat. seharusnya ini jadi iklan kopi ney,heee.
semalam saja disini. keesokan paginya kami kembali ke Basecamp Cantigi..MBOS

Rabu, 16 November 2011

Bike Rental Murah Di Jakarta


Pengen nyoba ke kantor atau sekolah dengan gowes sepeda? Tapi gak punya sepeda?
Tenang aja buat para temen-temen di Jakarta gak usah khawatir, sekarang sudah ada Bike Rental yang memfasilitasi ini semua.Bike Rental ini berada di 'Rumah Sepeda Indonesia' atau tepatnya di jalan Ahmad Dahlan no. 20 yang merupakan kerjasama antara bike to work (b2w) dan Polygon. Biaya sewanya murah kok masih terjangkau sama kantong kita-kita. Cuma dengan Rp 50.000 kalian bisa menggowes sepeda ini kemana aja dengan durasi 12 jam. Murah kan sehat pula.


Sumber: www.sepeda.sportku.com

Trek Downhill Baturiti, Tabanan, Bali

Ini dia Trek Downhill Baturiti Tabanan-Bali. saya kutip dari www.sepeda.sportku.com.. Bisa jadi referensi temen-temen lho..


Pulau Dewata yang terkenal dengan keindahan pantai. Hal tersebut menjadi daya tarik utama wisatawan, tentu saja selain kebudayaan dan adat istiadatnya. Nyaris semua hal di Bali memiliki pesone tersendiri.

Namun hamparan dataran tinggi dan pegunungan juga mampu memberikan arti tersendiri. Bagi penyuka tantangan adrenalin yang berbau gravitasi. Trek downhill Baturiti bias menjadi alternative. Trek sepeda ini berada di kawasan Bedugul, Tabanan.

Trek downhill sepanjang 1,8 kilometer akan terbagi dua jalur untuk memisahkan para downhiller tergantung dengan kemampuan dan usia. Jalur tersulit di sebut untuk para downhiller di kelas prestasi dengan beragam obstacle untuk mengasah kemampuan rider. Sedangkan jalur lainnya untuk mereka dari kelas hobby yang sedikit lebih mudah sehingga sesuai dengan kemampuan rider. Seluruh bagian obstacle dalam trek downhill Baturiti telah diberikan keamanan yang sesuai sehingga mampu meminimalkan resiko akan terjadinya kecelakaan.

Namun cuaca di daerah Bedugul, Bali menjadi hal yang wajib diketahui sebelum melibas trek downhill Baturiti. Hal tersebut sangat berhubungan dengan penggunaan ban atau hal lainnya. Karena di saat hujan, permukaan tanah cukup licin sehingga membutuhkan ban berkarakter spike, Sedangkan saat musim panas seperti saat kejuaraan downhill Indonesia UKDI 2011 seri 6 lalu, debu halus berada di beberapa bagian sehingga menyulitkan pandangan atau menahan laju sepeda.

Rabu, 26 Oktober 2011

BALI Yang Di Kejar Waktu

Foto-foto Kami di Bali...ini belum selesai lho,To be continued..








Senin, 22 Agustus 2011

Perjalanan I'tikafku Yang Pertama


Banyak orang yang berlomba-lomba beramal dan beribadah di Bulan Suci Ramadhan, dan saya pun gak mau ketinggalan dunk untuk jadi pemenangnya. Ramadhan tahun ini ada kegiatan yang beda saya lakukan dari tahun sebelumnya, saya bersyukur sekali akhirnya bisa mencoba kegiatan ini. Kalau saja teman kantor saya si Mba Prieska tidak mengajak, mungkin sampai saat ini di usia saya 24 tahun belum juga melakukan kegiatan itu. ehhhmmmm penasaran ya kegiatan apa seh?? hee maaf ya bikin penasaran. I'tikaf, itulah kegiatan yang saya lakukan dengan teman-teman kantor saya, Mba Prieska dan Ka Lanni di malam ke-21 Ramadhan yang jatuh pada tanggal 20 Agustus 2011 di Masjid Agung Al-Azhar Blok M, Jakarta. Jadi I'tikaf itu adalah berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr (www.pesantrenvirtual.com). Semoga saja kami bertiga mendapatkannya, Amin...

Sabtu sore 20 Agustus 2011, kita bertiga janjian di Blok M Plaza untuk ketemuan. Janjinya seh jam 5 sore tapi ya taulah jam ngaretnya Indonesia, mereka berdua telat sejam. Alhasil, saya pun keliling-keliling sendirian di Mall sembari menunggu mereka yang terkena macet di jalan. Dua puluh menit pun berlalu, saya pun mulai mencari tempat makan untuk berbuka puasa nanti. Sudah mengelilingi seluruh lantai Mall hingga ke pojok-pojok tetep aja semua Full Booked. "Oh My God, mau cari kemana lagi ney,dari tempat makan yang murah sampai mahal pun Full semua,hufff" dengan nada kesal sambil garuk-garuk kepala. Pukul 17.45 akhirnya Ka Lanni pun tiba, kita berdua langsung saja beranjak keluar mencari tempat makan di emperan jalan depan Blok M Plaza. Nasi goreng & Mie Goreng menu makanan buka puasa kali ini.

Adzan Maghrib pun berkumandang..Allahu Akbar, Allahu Akbar... Alhamdulillah, minum dulu ahhh.. nasi dan mie goreng pun masih lama matangnya. gosip aja dehh. 15 menit kemudian, makananpun tiba, langsung saja kita lahap dengan penuh semangat 45 tapi gak lupa dunk baca Bismillah pastinya. Gak lama kemudia Mba Prieska datang. Setelah makan selesai kami pun mencari Musholla ke dalam Mall yang terletak di lantai 5 diarea parkir. Musholla yang terletak di pojokan area parkir dengan ukurannya yang kecil terlihat sangat ramai sekali, sampai mau Wudhu pun mengantri layaknya mengantri sembako. Setelah selesai sholat kami langsung menuju ke belakang Mall untuk mencari Bajaj. Suara bisingnya bajaj pun tak membuat kami berhenti menggosip walaupun sampe teriak-teriakan segala,heee. Sampai juga deh di Masjid Agung Al-Azhar.


Dari luar pagar, terlihat masjid itu sangat kokoh dan megah. Kami pun mulai menaiki puluhan anak tangga menuju ruangan masjid. Subhanallah...ternyata jamaahnya sangat ramai hingga meluber ke luar ruangan. Kami pun hanya kebagian di luar ruangan. Selanjutnya kami Sholat Isya masing-masing karena sudah ketinggalan berjamaah,heeee..Dilanjutkan lagi mendengarkan ceramah, setelah itu Solat Taraweh pun di mulai dengan jumlah 11 rakaat. Pukul 20.30 Alhamdulillah selesai juga Solat Taraweh, tak lama kemudian seorang Ikhwan berdiri di depan mimbar dengan maksud memberitahukan pengumuman. "Para jamaah sekalian nanti pada jam setengah sepuluh hingga setengah dua belas akan ada ceramah I'tikaf dari Ustadz (saya lupa namanya siapa,he), bagi jamaah yang ingin makan sahurnya disiapkan panitia diharapkan mendaftar dan membayar infaq sebesar sepuluh ribu rupiah" ucap akhwat dengan mengenakan baju koko berwarna hitam.

Asiiikk kami punya jeda waktu sejam lagi sebelum ceramah dimulai. Waktu senggang ini kami manfaatkan untuk tadarus Al-Quran. Setelah 30 menit tadarus, kami keluar ruangan menuju bazaar. Apalagi yang kami cari kalau bukan makanan dan minuman, heee. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.45, masuklah kami ke ruangan masjid kembali. Di waktu senggang ini banyak sekali kegiatan yang orang-orang lakukan, ada yang tadarus, ada yang ngobrol, ada yang foto-foto (termasuk kita juga seh,hee) sampai ada yang tidur. Tak lama kemudian datanglah Pak Satpam yang mengenakan seragam berwarna biru tua dengan perutnya yang buncit dan berkumis lebat, "Bangun...bangun..bangun Bu Pak, jangan tidur di masjid, masjid bukan tempat tidur, percuma masa ke masjid cuma tidur saja. ayo bangun..bangun..bangun" dengan keras dan lantang sambil keliling ruangan si Bapak Muftiyah mengingatkan para jamaah.  Pak Muftiyah namanya, beliau tak bosan-b0san selalu menghampiri para jamaah hampir setiap sejam sekali untuk mengingatkan tidak tidur di dalam masjid, Subhanallah, sallut...

Ceramah pun dimulai. Ada yang aneh, kok makin sedikit ya jamaahnya, pada kemana ya para jamaah yang tadi penuh sesak memenuhi masjid ini. Tapi tak apalah, saya, Ka Lanni dan Mba Prieska masih semangat 45 menjalani I'tikaf malam itu. Alhamdulillah selesai juga ceramahnya. Mata saya mulai ngantuk tapi gak boleh terlena ney, langsung aja ke toilet untuk berwudhu lagi, dan mulai seger kembali. Pakai lagi mukena nya dan lanjut tadarus. Ada hal yang membuat mata saya tertarik melihat sesuatu, apakah itu? Siapa sangka seorang ibu dan anak lelaki sekitar umurnya 5 tahun sedang menghafal Al-Quran yang dituntun oleh ibunya. Subhanallah, ternyata suara anak itu sangat merdu sekali. Saya pun terbengong-bengong mendengar lantunan syair ayat-ayat Al-Quran yang sedang dilafadzkannya. Lanjut lagi deh saya tadarusnya, masa ngeliatain anak itu terus nanti dia risih lagi. 

Walaupun judulnya I'tikaf, tapi kita bertiga tetep aja masih sempet bercanda ria di sela-sela waktu yang kosong (trik menghilangkan rasa ngantuk,hee). Sangat menyenangkan pokoknya. Akhirnya pukul 01.30 kita sepakat untuk tidur dulu. Ternyata panitianya sudah menyiapkan ruangan untuk para jamaah beristirahat di aula bawah masjid. Terimakasih ya Panitia. Langsung saja kami bergegas menuju aula untuk tidur. Aula sudah ramai dipenuhi para jamaah dan kita pun dapat tempat tidurnya di baris paling depan (ketahuan deh kalo tidurnya nanti ngorok).

Pukul 03.00 waktunya bangun dan sahur. Di luar masjid panitia sudah menyiapkan makanan sahur untuk para jamaah yang sebelumnya sudah memesan. Sebelum sahur, waktunya Solat Tahajud dulu, ambil wudhu dan segera sholat. Setelah solat selesai, langsung saja kami mengambil makanan di panitia dan melahapnya. Menu sahur kali ini ada nasi, tumis kacang panjang, ayam goreng, sambal, kerupuk dan pisang. Nyam..nyam..nyam..Alhamdulillah kenyang.  Adzan subuh pun mulai berkumandang, waktunya solat subuh. setelah selesai solat di isi dengan ceramah. Isi ceramahnya sangat menarik dan lucu, jadi kita para jamaah gak ngantuk dan tertawa dibuatnya. Lanjut lagi dengan tadarusan selama 30 menit. Hari sudah mulai pagi, waktunya kami pulang. Mudah-mudahan I'tikaf yang walaupun hanya sehari saja dapat bermanfaat untuk saya, Ka Lanni dan Mba Prieska. Ternyata I'tikaf tidak membosankan seperti yang saya bayangkan. Terimakasih Ya Allah... (Mbos)


Minggu, 05 Juni 2011

Mengayuh Sepeda Di Gunung Gede (2958 mdpl)

“Awalnya dari iseng hanya obrolan biasa, karena kita sering naik Gunung Gede hanya dengan membawa tas dan tas, dan kita punya tambahan media yaitu sepeda apa salahnya dicoba dengan membawa sepeda”

Pendakian Yang Diidamkan

Mendaki gunung biasanya hanya membawa carrier di pundak menapaki jalan setapak. Bagaimana dengan mendaki gunung dengan membawa sepeda? Hal inilah yang dilakukan Tim Cantigi Cycling yaitu Ombing, Juned, Heri dan Paijo pada tanggal 25 – 27 Mei 2011. Mereka mendaki  dengan sepedanya ke Gunung Gede (2958 mdpl) selama 3 hari. Pendakian biasanya dilakukan membawa carrier saja, itupun sudah sulit dengan beban yang sangat berat di pundak. Apalagi dengan membawa sepeda dan harus membawa semua perlengkapan sendiri dengan berat kurang lebih 30 kg(perlengkapan+sepeda) tanpa ada team support dengan kondisi jalur yang terus menanjak, berakar dan kemiringan hampir 60 derajat yang mengharuskan sepeda terus didorong, digotong dan di tarik dengan tali weebing. Fisik, stamina, sepeda yang sehat dan  mental yang kuat serta  manajemen perjalanan yang matang adalah modal utama untuk keberhasilan pendakian dengan membawa sepeda.


Perjalanan

Jalur Gunung Putri adalah jalur yang dipilih oleh Tim Cantigi Cycling. Dari Pos GPO Putri sampai Surya Kencana normalnya 5-6 jam perjalanan itu pendakian normal yang hanya membawa carrier. Bagaimana dengan membawa sepeda?berapa lama perjalanan yang harus ditempuh? Tim Cantigi Cycling memulai perjalanan dari Pos GPO Putri Sampai Surya Kencana 19 jam lamanya, 3 kali lipat lamanya dari pendakian normal dan sudah kebayang lelahnya mendaki dengan membawa sepeda yang harus terus di dorong dan digotong.  Tanggal 25 Mei 2011 jam 3 pagi perjalanan dimulai dari Cipanas, 2 jam perjalanan akhirnya  tim sampai di sungai. Sebelumnya tim melewati perladangan, kemudian melewati hutan pinus dimana kita akan menyeberangi sungai kecil dan disinilah terakhir air bisa didapatkan. Tim istirahat sejenak dan sarapan pagi sampai jam 8 pagi di sungai ini. Jam 8 pagi Ombing, Juned, Heri dan Paijo memulai perjalanannya kembali. Medan mulai sulit dan terjal, selanjutnya akan memasuki hutan tropis, dengan ketinggian 1.850 m.dpl. Sepanjang perjalanan sepeda  terus di dorong dan digotong melewati jalan yang berakar, berbatu dan menanjak. Perjalanan masih panjang untuk sampai puncak Gunung Gede. Pendakian lewat jalur Putri sangat jarang sekali ditemui jalur landai dan jarang air, air terakhir ditemukan di sungai sebelum Pos 1 dan selanjutnya di Surya Kencana. Disarankan untuk membawa air  secukupnya dari bawah sebelum akhirnya menemukan air di Surya Kencana. Tim masing-masing membawa kurang lebih 3 liter air. Jalur Putri cenderung berakar, berbatu, menanjak hingga kemiringan sampai 60 derajat ditambah lagi banyak pohon tumbang. Tim kesulitan melewati jalur yang menanjak dan melewati pohon tumbang, semua tim mulai kelelahan, fisik sudah mulai melemah. “saya harus mendorong sepeda melewati akar, menaiki sepeda undakan demi undakan yang terlihat tinggi di depan saya, saya sempet stress” kata Heri si pemilik sepeda Marin Putih.

Tim akhirnya sampai di Pos 2 pada pukul 12.00 siang. Di Pos 2 tim memutuskan untuk nge-camp disini dan akan memulai perjalanan kembali ke Surya Kencana besok pagi.

Keesokan paginya jam 7 tim memulai perjalanannya kembali ke Suya Kencana. Sepanjang perjalanan medan yang dilalui makin sulit. Sering sekali ditemui jalan berakar dan terus menanjak. Sepeda terus di dorong dan di gotong, tak pernah ditemui jalur yang landai. Kondisi teman-teman mulai melemah, kehabisan tenaga. Sesekali guyonan-guyonan dilakukan untuk menghibur kondisi tim agar terus bersemangat. “Kondisi temen-temen sudah down, kehilangan tenaga dan semangat, kita satu sama lain kasih semangat, sesekali guyonan, kerjasama tim, saling menjaga, saling support dan saling menjaga” kata Ombing si cowok berambut keriting.  Benar-benar dibutuhkan kemauan, semangat dan fisik yang kuat untuk melakukan perjalanan ini. Track sulit pun di temui bertubi-tubi. Di perjalanan kita melewati Legok Lenca (2.150 m.dpl) dan Buntut Lutung (2.300 m.dpl), serta akan menemui dua buah pondok masing-masing di Lawang Seketeng (2.500 m.dpl) dan di Simpang Maleber (2.625 m.dpl).  Lawang Seketeng, track ini sangat sulit dilalui medan yang curam dan tinggi  yang mengharuskan kami moving together menggunakan tali weebing. Tali weebing ini diikatkan ke sepeda dan kemudian ditarik, di dorong  secara estafet agar bisa sampai ke atas. Lawang Seketeng telah dilalui. Selanjutnya Simpang Maleber. Track ini pun sama sulitnya dengan Lawang Seketeng, track akar dan menanjak  semakin banyak ditemui. Tim sampai di Simpang Maleber jam 6 sore. Disini salah satu anggota tim yaitu Paijo menyerah menaklukan jalur ini. Sepedanya diikat di pohon dan ditinggalkan di Simpang Maleber. “Simpang Maleber akarnya terlalu banyak dan horror, saya gak mau perjalanan tim terganggu karena saya dan menunggu terlalu lama”kata Paijo. Surya Kencana sebentar lagi, jalan semakin sempit dilalui, tim kesulitan membawa sepeda karena sempitnya jalan dan terhalang oleh stang sepeda. Selama perjalanan sering kali ditemui kendala, tim mengatasi hal itu dengan team work, mengalahkan ego masing-masing, saling support dan saling menjaga.



Jam 7 malam akhirnya sampai di Alun-alun Surya Kencana (2.800 mdl). Disini tim bermalam satu malam lagi. Alun-alaun Surya Kencana adalah Padang Rumput dan  Padang Bunga Edelweiss, hamparan  Bunga Edelweiss memenuhi dataran yang seluas kurang lebih 50 Ha. Tempat ini adalah tempat favorit para pendaki, keindahan hamparan Bunga Edelweis membuat semua rasa lelah dan letih tergantikan dengan melihatnya. Begitu juga dengan tim Cantigi Cycling. Dengan leluasa tim menggowes sepedanya di Alun-alun Surya Kencana dari Alun-alun Timur ke Alun-alun Barat. Baru disinilah sepeda bisa di gowes dengan leluasa. Seteleh 19 jam perjalanan menuju Alun-alun Surya Kencana dengan mendorong, menggotong, menarik sepeda akhirnya menemukan dataran landai untuk bisa di gowes yaitu di Alun-alun Surya Kencana.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Ombing, Juned, heri dan Paijo bernarsis ria. Dengan rasa bangga tim berfoto dengan sepedanya masing-masing di Alun-alun Surya Kencana. Gowes dan terus digowes sepuasnya sebelum nanti melanjutkan perjalanan yang melelahkan kembali.

Jam 8 pagi, Ombing, Juned dan Heri bersiap-siap menuju Puncak Gede. Paijo salah satu anggota tim tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Puncak karena kondisi fisik dan kesehatan yang tidak memungkinkan. Dan akhirnya Paijo kembali turun ke Simpang Maleber untuk mengambil sepedanya yang ditinggalkan kemarin.

Sepeda terus digowes  dari Alun-alun Timur ke Barat sebelum nanti menanjak kembali melewati batu-batu besar menuju Puncak.  Sampailah di Alun-alun Barat. Siap-siap lagi menggotong sepeda. Perjalanan menuju puncak ini sepeda terus di dorong dan digotong melewati batu-batu besar dan jalan yang menanjak. Mendekati puncak Gunung Gede pepohonan semakin berkurang, kemudian hanya lahan gersang yang belum ada tumbuhan, hal ini diakibatkan kegiatan kawah berapi Gunung Gede yang seringkali mengeluarkan gas berbau belerang. Sesampainya di puncak Gunung Gede kita dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah karena kita bisa melihat kawah-kawah disekitar puncak, Gunung Pangrango, Gunung Gumuruh dan  pemandangan kota-kota serta gunung-gunung di Jawa Barat. Akhirnya jam 1 siang tim sampai di Puncak. Rasa haru, senang dan bangga di rasakan semua tim. Semua rasa lelah, letih dan stress hilang seketika setelah sampai di Puncak Gunung Gede dan melihat kawahnya.  Seperti Juned yang sangat senang dan bangga akhirnya bisa sampai Puncak. “Bangga sekali, gak banyak orang yang mampu membawa sepeda ke Puncak Gunung Gede, apalagi tantangan-tantangan di lapangan” kata Juned yang berbadan paling besar dan berkumis. Sesampainya di puncak session foto-foto dilanjutkan kembali. Masing-masing dengan bangganya berdiri disamping sepeda menghadap kawah. Jepret..jepret..jepret..berkali-kali kamera di jepretkan untuk mengambil gambar Ombing, Juned dan Heri dengan berbagai macam gaya. Setelah selesai berfoto ria, inilah saatnya  menggowes di Puncak. Di Puncak bisa digowes, tapi hati-hati karena jalurnya yang sempit dan kanan kirinya jurang, ini sangat beresiko tinggi.

Jam 3 siang tim turun dari Puncak Gunung Gede. Mari menggotong dan mendorong kembali. Bertemulah dengan Si Tanjakan Setan, tim memutuskan tidak melewati Tanjakan Setan ini dan mengambil jalan ke arah kanan jalan. Tapi ternyata jalan yang diambil lebih sulit dilalui, banyak pohon tumbang dan track yg dilalui sempit. Akhirnya jam 6 sore tim sampai di Pos Kandang Badak. Sesampainya di Pos Kandang Badak kondisi tim sudah semakin lemah dan down. Tim terus mendorong sepeda melewati Pos Kandang Batu dan sampai di  Air Panas jam 9 malam. Sebenarnya sepeda bisa di gowes setelah air panas menuju pos  GPO Cibodas tetapi dengan tipe sepeda Fulsus atau dua suspensi di depan dan tengah. Karena sepeda tim adalah tipe XC, jadi sepeda baru bisa digowes dari Pos Panyancangan sampai ke Pos GPO Cibodas. Akhirnya Ombing, Juned dan Heri sampai juga di basecamp Cantigi pada jama 1 malam. Perjalanan Pendakian Gunung Gede dengan Sepeda memakan waktu 3 hari dengan total perjalanan 31 jam. Pendakian dengan menggunakan sepeda adalah hal yang cukup sulit dilakukan. Semua harus disiapkan secara matang dan manajemen perjalanan yang bagus. Bukan hanya fisik dan mental tetapi sepeda yang sehat harus disiapkan. Keberhasilan tim adalah keberhasilan semua. Rasa bangga dan haru dirasakan semua tim. “Kita bisa melakukan yang belum tentu orang lain bisa lakukan. Gak ada yang gak mungkin di hidup ini, kalau memang Allah mengizinkan dan kita semua punya semangat, kemauan dan pantang menyerah” kata Ombing si pemilik sepeda Scott Hijau. Rasa bangga pun dikemukakan oleh Heri “sangat gak percaya, mimpi yang saya pelihara dari dulu, saya menjaga dan memeliharanya hingga menggapai mimpi itu”.  (Mbos)