Senin, 22 Agustus 2011

Perjalanan I'tikafku Yang Pertama


Banyak orang yang berlomba-lomba beramal dan beribadah di Bulan Suci Ramadhan, dan saya pun gak mau ketinggalan dunk untuk jadi pemenangnya. Ramadhan tahun ini ada kegiatan yang beda saya lakukan dari tahun sebelumnya, saya bersyukur sekali akhirnya bisa mencoba kegiatan ini. Kalau saja teman kantor saya si Mba Prieska tidak mengajak, mungkin sampai saat ini di usia saya 24 tahun belum juga melakukan kegiatan itu. ehhhmmmm penasaran ya kegiatan apa seh?? hee maaf ya bikin penasaran. I'tikaf, itulah kegiatan yang saya lakukan dengan teman-teman kantor saya, Mba Prieska dan Ka Lanni di malam ke-21 Ramadhan yang jatuh pada tanggal 20 Agustus 2011 di Masjid Agung Al-Azhar Blok M, Jakarta. Jadi I'tikaf itu adalah berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr (www.pesantrenvirtual.com). Semoga saja kami bertiga mendapatkannya, Amin...

Sabtu sore 20 Agustus 2011, kita bertiga janjian di Blok M Plaza untuk ketemuan. Janjinya seh jam 5 sore tapi ya taulah jam ngaretnya Indonesia, mereka berdua telat sejam. Alhasil, saya pun keliling-keliling sendirian di Mall sembari menunggu mereka yang terkena macet di jalan. Dua puluh menit pun berlalu, saya pun mulai mencari tempat makan untuk berbuka puasa nanti. Sudah mengelilingi seluruh lantai Mall hingga ke pojok-pojok tetep aja semua Full Booked. "Oh My God, mau cari kemana lagi ney,dari tempat makan yang murah sampai mahal pun Full semua,hufff" dengan nada kesal sambil garuk-garuk kepala. Pukul 17.45 akhirnya Ka Lanni pun tiba, kita berdua langsung saja beranjak keluar mencari tempat makan di emperan jalan depan Blok M Plaza. Nasi goreng & Mie Goreng menu makanan buka puasa kali ini.

Adzan Maghrib pun berkumandang..Allahu Akbar, Allahu Akbar... Alhamdulillah, minum dulu ahhh.. nasi dan mie goreng pun masih lama matangnya. gosip aja dehh. 15 menit kemudian, makananpun tiba, langsung saja kita lahap dengan penuh semangat 45 tapi gak lupa dunk baca Bismillah pastinya. Gak lama kemudia Mba Prieska datang. Setelah makan selesai kami pun mencari Musholla ke dalam Mall yang terletak di lantai 5 diarea parkir. Musholla yang terletak di pojokan area parkir dengan ukurannya yang kecil terlihat sangat ramai sekali, sampai mau Wudhu pun mengantri layaknya mengantri sembako. Setelah selesai sholat kami langsung menuju ke belakang Mall untuk mencari Bajaj. Suara bisingnya bajaj pun tak membuat kami berhenti menggosip walaupun sampe teriak-teriakan segala,heee. Sampai juga deh di Masjid Agung Al-Azhar.


Dari luar pagar, terlihat masjid itu sangat kokoh dan megah. Kami pun mulai menaiki puluhan anak tangga menuju ruangan masjid. Subhanallah...ternyata jamaahnya sangat ramai hingga meluber ke luar ruangan. Kami pun hanya kebagian di luar ruangan. Selanjutnya kami Sholat Isya masing-masing karena sudah ketinggalan berjamaah,heeee..Dilanjutkan lagi mendengarkan ceramah, setelah itu Solat Taraweh pun di mulai dengan jumlah 11 rakaat. Pukul 20.30 Alhamdulillah selesai juga Solat Taraweh, tak lama kemudian seorang Ikhwan berdiri di depan mimbar dengan maksud memberitahukan pengumuman. "Para jamaah sekalian nanti pada jam setengah sepuluh hingga setengah dua belas akan ada ceramah I'tikaf dari Ustadz (saya lupa namanya siapa,he), bagi jamaah yang ingin makan sahurnya disiapkan panitia diharapkan mendaftar dan membayar infaq sebesar sepuluh ribu rupiah" ucap akhwat dengan mengenakan baju koko berwarna hitam.

Asiiikk kami punya jeda waktu sejam lagi sebelum ceramah dimulai. Waktu senggang ini kami manfaatkan untuk tadarus Al-Quran. Setelah 30 menit tadarus, kami keluar ruangan menuju bazaar. Apalagi yang kami cari kalau bukan makanan dan minuman, heee. Waktu sudah menunjukkan pukul 20.45, masuklah kami ke ruangan masjid kembali. Di waktu senggang ini banyak sekali kegiatan yang orang-orang lakukan, ada yang tadarus, ada yang ngobrol, ada yang foto-foto (termasuk kita juga seh,hee) sampai ada yang tidur. Tak lama kemudian datanglah Pak Satpam yang mengenakan seragam berwarna biru tua dengan perutnya yang buncit dan berkumis lebat, "Bangun...bangun..bangun Bu Pak, jangan tidur di masjid, masjid bukan tempat tidur, percuma masa ke masjid cuma tidur saja. ayo bangun..bangun..bangun" dengan keras dan lantang sambil keliling ruangan si Bapak Muftiyah mengingatkan para jamaah.  Pak Muftiyah namanya, beliau tak bosan-b0san selalu menghampiri para jamaah hampir setiap sejam sekali untuk mengingatkan tidak tidur di dalam masjid, Subhanallah, sallut...

Ceramah pun dimulai. Ada yang aneh, kok makin sedikit ya jamaahnya, pada kemana ya para jamaah yang tadi penuh sesak memenuhi masjid ini. Tapi tak apalah, saya, Ka Lanni dan Mba Prieska masih semangat 45 menjalani I'tikaf malam itu. Alhamdulillah selesai juga ceramahnya. Mata saya mulai ngantuk tapi gak boleh terlena ney, langsung aja ke toilet untuk berwudhu lagi, dan mulai seger kembali. Pakai lagi mukena nya dan lanjut tadarus. Ada hal yang membuat mata saya tertarik melihat sesuatu, apakah itu? Siapa sangka seorang ibu dan anak lelaki sekitar umurnya 5 tahun sedang menghafal Al-Quran yang dituntun oleh ibunya. Subhanallah, ternyata suara anak itu sangat merdu sekali. Saya pun terbengong-bengong mendengar lantunan syair ayat-ayat Al-Quran yang sedang dilafadzkannya. Lanjut lagi deh saya tadarusnya, masa ngeliatain anak itu terus nanti dia risih lagi. 

Walaupun judulnya I'tikaf, tapi kita bertiga tetep aja masih sempet bercanda ria di sela-sela waktu yang kosong (trik menghilangkan rasa ngantuk,hee). Sangat menyenangkan pokoknya. Akhirnya pukul 01.30 kita sepakat untuk tidur dulu. Ternyata panitianya sudah menyiapkan ruangan untuk para jamaah beristirahat di aula bawah masjid. Terimakasih ya Panitia. Langsung saja kami bergegas menuju aula untuk tidur. Aula sudah ramai dipenuhi para jamaah dan kita pun dapat tempat tidurnya di baris paling depan (ketahuan deh kalo tidurnya nanti ngorok).

Pukul 03.00 waktunya bangun dan sahur. Di luar masjid panitia sudah menyiapkan makanan sahur untuk para jamaah yang sebelumnya sudah memesan. Sebelum sahur, waktunya Solat Tahajud dulu, ambil wudhu dan segera sholat. Setelah solat selesai, langsung saja kami mengambil makanan di panitia dan melahapnya. Menu sahur kali ini ada nasi, tumis kacang panjang, ayam goreng, sambal, kerupuk dan pisang. Nyam..nyam..nyam..Alhamdulillah kenyang.  Adzan subuh pun mulai berkumandang, waktunya solat subuh. setelah selesai solat di isi dengan ceramah. Isi ceramahnya sangat menarik dan lucu, jadi kita para jamaah gak ngantuk dan tertawa dibuatnya. Lanjut lagi dengan tadarusan selama 30 menit. Hari sudah mulai pagi, waktunya kami pulang. Mudah-mudahan I'tikaf yang walaupun hanya sehari saja dapat bermanfaat untuk saya, Ka Lanni dan Mba Prieska. Ternyata I'tikaf tidak membosankan seperti yang saya bayangkan. Terimakasih Ya Allah... (Mbos)


Minggu, 05 Juni 2011

Mengayuh Sepeda Di Gunung Gede (2958 mdpl)

“Awalnya dari iseng hanya obrolan biasa, karena kita sering naik Gunung Gede hanya dengan membawa tas dan tas, dan kita punya tambahan media yaitu sepeda apa salahnya dicoba dengan membawa sepeda”

Pendakian Yang Diidamkan

Mendaki gunung biasanya hanya membawa carrier di pundak menapaki jalan setapak. Bagaimana dengan mendaki gunung dengan membawa sepeda? Hal inilah yang dilakukan Tim Cantigi Cycling yaitu Ombing, Juned, Heri dan Paijo pada tanggal 25 – 27 Mei 2011. Mereka mendaki  dengan sepedanya ke Gunung Gede (2958 mdpl) selama 3 hari. Pendakian biasanya dilakukan membawa carrier saja, itupun sudah sulit dengan beban yang sangat berat di pundak. Apalagi dengan membawa sepeda dan harus membawa semua perlengkapan sendiri dengan berat kurang lebih 30 kg(perlengkapan+sepeda) tanpa ada team support dengan kondisi jalur yang terus menanjak, berakar dan kemiringan hampir 60 derajat yang mengharuskan sepeda terus didorong, digotong dan di tarik dengan tali weebing. Fisik, stamina, sepeda yang sehat dan  mental yang kuat serta  manajemen perjalanan yang matang adalah modal utama untuk keberhasilan pendakian dengan membawa sepeda.


Perjalanan

Jalur Gunung Putri adalah jalur yang dipilih oleh Tim Cantigi Cycling. Dari Pos GPO Putri sampai Surya Kencana normalnya 5-6 jam perjalanan itu pendakian normal yang hanya membawa carrier. Bagaimana dengan membawa sepeda?berapa lama perjalanan yang harus ditempuh? Tim Cantigi Cycling memulai perjalanan dari Pos GPO Putri Sampai Surya Kencana 19 jam lamanya, 3 kali lipat lamanya dari pendakian normal dan sudah kebayang lelahnya mendaki dengan membawa sepeda yang harus terus di dorong dan digotong.  Tanggal 25 Mei 2011 jam 3 pagi perjalanan dimulai dari Cipanas, 2 jam perjalanan akhirnya  tim sampai di sungai. Sebelumnya tim melewati perladangan, kemudian melewati hutan pinus dimana kita akan menyeberangi sungai kecil dan disinilah terakhir air bisa didapatkan. Tim istirahat sejenak dan sarapan pagi sampai jam 8 pagi di sungai ini. Jam 8 pagi Ombing, Juned, Heri dan Paijo memulai perjalanannya kembali. Medan mulai sulit dan terjal, selanjutnya akan memasuki hutan tropis, dengan ketinggian 1.850 m.dpl. Sepanjang perjalanan sepeda  terus di dorong dan digotong melewati jalan yang berakar, berbatu dan menanjak. Perjalanan masih panjang untuk sampai puncak Gunung Gede. Pendakian lewat jalur Putri sangat jarang sekali ditemui jalur landai dan jarang air, air terakhir ditemukan di sungai sebelum Pos 1 dan selanjutnya di Surya Kencana. Disarankan untuk membawa air  secukupnya dari bawah sebelum akhirnya menemukan air di Surya Kencana. Tim masing-masing membawa kurang lebih 3 liter air. Jalur Putri cenderung berakar, berbatu, menanjak hingga kemiringan sampai 60 derajat ditambah lagi banyak pohon tumbang. Tim kesulitan melewati jalur yang menanjak dan melewati pohon tumbang, semua tim mulai kelelahan, fisik sudah mulai melemah. “saya harus mendorong sepeda melewati akar, menaiki sepeda undakan demi undakan yang terlihat tinggi di depan saya, saya sempet stress” kata Heri si pemilik sepeda Marin Putih.

Tim akhirnya sampai di Pos 2 pada pukul 12.00 siang. Di Pos 2 tim memutuskan untuk nge-camp disini dan akan memulai perjalanan kembali ke Surya Kencana besok pagi.

Keesokan paginya jam 7 tim memulai perjalanannya kembali ke Suya Kencana. Sepanjang perjalanan medan yang dilalui makin sulit. Sering sekali ditemui jalan berakar dan terus menanjak. Sepeda terus di dorong dan di gotong, tak pernah ditemui jalur yang landai. Kondisi teman-teman mulai melemah, kehabisan tenaga. Sesekali guyonan-guyonan dilakukan untuk menghibur kondisi tim agar terus bersemangat. “Kondisi temen-temen sudah down, kehilangan tenaga dan semangat, kita satu sama lain kasih semangat, sesekali guyonan, kerjasama tim, saling menjaga, saling support dan saling menjaga” kata Ombing si cowok berambut keriting.  Benar-benar dibutuhkan kemauan, semangat dan fisik yang kuat untuk melakukan perjalanan ini. Track sulit pun di temui bertubi-tubi. Di perjalanan kita melewati Legok Lenca (2.150 m.dpl) dan Buntut Lutung (2.300 m.dpl), serta akan menemui dua buah pondok masing-masing di Lawang Seketeng (2.500 m.dpl) dan di Simpang Maleber (2.625 m.dpl).  Lawang Seketeng, track ini sangat sulit dilalui medan yang curam dan tinggi  yang mengharuskan kami moving together menggunakan tali weebing. Tali weebing ini diikatkan ke sepeda dan kemudian ditarik, di dorong  secara estafet agar bisa sampai ke atas. Lawang Seketeng telah dilalui. Selanjutnya Simpang Maleber. Track ini pun sama sulitnya dengan Lawang Seketeng, track akar dan menanjak  semakin banyak ditemui. Tim sampai di Simpang Maleber jam 6 sore. Disini salah satu anggota tim yaitu Paijo menyerah menaklukan jalur ini. Sepedanya diikat di pohon dan ditinggalkan di Simpang Maleber. “Simpang Maleber akarnya terlalu banyak dan horror, saya gak mau perjalanan tim terganggu karena saya dan menunggu terlalu lama”kata Paijo. Surya Kencana sebentar lagi, jalan semakin sempit dilalui, tim kesulitan membawa sepeda karena sempitnya jalan dan terhalang oleh stang sepeda. Selama perjalanan sering kali ditemui kendala, tim mengatasi hal itu dengan team work, mengalahkan ego masing-masing, saling support dan saling menjaga.



Jam 7 malam akhirnya sampai di Alun-alun Surya Kencana (2.800 mdl). Disini tim bermalam satu malam lagi. Alun-alaun Surya Kencana adalah Padang Rumput dan  Padang Bunga Edelweiss, hamparan  Bunga Edelweiss memenuhi dataran yang seluas kurang lebih 50 Ha. Tempat ini adalah tempat favorit para pendaki, keindahan hamparan Bunga Edelweis membuat semua rasa lelah dan letih tergantikan dengan melihatnya. Begitu juga dengan tim Cantigi Cycling. Dengan leluasa tim menggowes sepedanya di Alun-alun Surya Kencana dari Alun-alun Timur ke Alun-alun Barat. Baru disinilah sepeda bisa di gowes dengan leluasa. Seteleh 19 jam perjalanan menuju Alun-alun Surya Kencana dengan mendorong, menggotong, menarik sepeda akhirnya menemukan dataran landai untuk bisa di gowes yaitu di Alun-alun Surya Kencana.

Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Ombing, Juned, heri dan Paijo bernarsis ria. Dengan rasa bangga tim berfoto dengan sepedanya masing-masing di Alun-alun Surya Kencana. Gowes dan terus digowes sepuasnya sebelum nanti melanjutkan perjalanan yang melelahkan kembali.

Jam 8 pagi, Ombing, Juned dan Heri bersiap-siap menuju Puncak Gede. Paijo salah satu anggota tim tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Puncak karena kondisi fisik dan kesehatan yang tidak memungkinkan. Dan akhirnya Paijo kembali turun ke Simpang Maleber untuk mengambil sepedanya yang ditinggalkan kemarin.

Sepeda terus digowes  dari Alun-alun Timur ke Barat sebelum nanti menanjak kembali melewati batu-batu besar menuju Puncak.  Sampailah di Alun-alun Barat. Siap-siap lagi menggotong sepeda. Perjalanan menuju puncak ini sepeda terus di dorong dan digotong melewati batu-batu besar dan jalan yang menanjak. Mendekati puncak Gunung Gede pepohonan semakin berkurang, kemudian hanya lahan gersang yang belum ada tumbuhan, hal ini diakibatkan kegiatan kawah berapi Gunung Gede yang seringkali mengeluarkan gas berbau belerang. Sesampainya di puncak Gunung Gede kita dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah karena kita bisa melihat kawah-kawah disekitar puncak, Gunung Pangrango, Gunung Gumuruh dan  pemandangan kota-kota serta gunung-gunung di Jawa Barat. Akhirnya jam 1 siang tim sampai di Puncak. Rasa haru, senang dan bangga di rasakan semua tim. Semua rasa lelah, letih dan stress hilang seketika setelah sampai di Puncak Gunung Gede dan melihat kawahnya.  Seperti Juned yang sangat senang dan bangga akhirnya bisa sampai Puncak. “Bangga sekali, gak banyak orang yang mampu membawa sepeda ke Puncak Gunung Gede, apalagi tantangan-tantangan di lapangan” kata Juned yang berbadan paling besar dan berkumis. Sesampainya di puncak session foto-foto dilanjutkan kembali. Masing-masing dengan bangganya berdiri disamping sepeda menghadap kawah. Jepret..jepret..jepret..berkali-kali kamera di jepretkan untuk mengambil gambar Ombing, Juned dan Heri dengan berbagai macam gaya. Setelah selesai berfoto ria, inilah saatnya  menggowes di Puncak. Di Puncak bisa digowes, tapi hati-hati karena jalurnya yang sempit dan kanan kirinya jurang, ini sangat beresiko tinggi.

Jam 3 siang tim turun dari Puncak Gunung Gede. Mari menggotong dan mendorong kembali. Bertemulah dengan Si Tanjakan Setan, tim memutuskan tidak melewati Tanjakan Setan ini dan mengambil jalan ke arah kanan jalan. Tapi ternyata jalan yang diambil lebih sulit dilalui, banyak pohon tumbang dan track yg dilalui sempit. Akhirnya jam 6 sore tim sampai di Pos Kandang Badak. Sesampainya di Pos Kandang Badak kondisi tim sudah semakin lemah dan down. Tim terus mendorong sepeda melewati Pos Kandang Batu dan sampai di  Air Panas jam 9 malam. Sebenarnya sepeda bisa di gowes setelah air panas menuju pos  GPO Cibodas tetapi dengan tipe sepeda Fulsus atau dua suspensi di depan dan tengah. Karena sepeda tim adalah tipe XC, jadi sepeda baru bisa digowes dari Pos Panyancangan sampai ke Pos GPO Cibodas. Akhirnya Ombing, Juned dan Heri sampai juga di basecamp Cantigi pada jama 1 malam. Perjalanan Pendakian Gunung Gede dengan Sepeda memakan waktu 3 hari dengan total perjalanan 31 jam. Pendakian dengan menggunakan sepeda adalah hal yang cukup sulit dilakukan. Semua harus disiapkan secara matang dan manajemen perjalanan yang bagus. Bukan hanya fisik dan mental tetapi sepeda yang sehat harus disiapkan. Keberhasilan tim adalah keberhasilan semua. Rasa bangga dan haru dirasakan semua tim. “Kita bisa melakukan yang belum tentu orang lain bisa lakukan. Gak ada yang gak mungkin di hidup ini, kalau memang Allah mengizinkan dan kita semua punya semangat, kemauan dan pantang menyerah” kata Ombing si pemilik sepeda Scott Hijau. Rasa bangga pun dikemukakan oleh Heri “sangat gak percaya, mimpi yang saya pelihara dari dulu, saya menjaga dan memeliharanya hingga menggapai mimpi itu”.  (Mbos)



Selasa, 31 Mei 2011

Pertama Kalinya Bersepeda

Ini cerita udah 1 tahun yang lalu dan baru saya copy dari document saya ke blog..flashback cerita lalu gak apa-apa dunk,he..enjoyed  ^_^

Planning bersepeda udah lama ya sekitar 1 bulan lah. Akhirny sabtu (19 juni 2010) baru kesampean deh. Pertama kalinya saya bersepeda. Bukan sepeda biasa yang saya gunakan, tapi sepeda gunung. Perjuangan untuk bersepeda seperti pahlawan kemerdekaan 45. Begini perjuangannya, Jumat sore Pulang dari kantor langsung menuju ke ciputat tepatnya kos-kosan anak UIN (kiki,yunus,opah,apri). Perjalanan Dari kantor (di sudirman) ke ciputat sekitar 2 jam lebih, maklum kota Jakarta kalau sore waktunya pulang kantor dan pastinya setiap sudut jalan maceeeettt. Kayak napak tilas diperjalanan lama bangat (di bus gerutu terusss). tapi tetap semangat dunk khan mau jalan-jalan bersepeda sama abangku (heeee).


Sabtu siang sekitar pukul 12.00, saya dan bang ombing langsung meluncur ke rumah juned di srengseng sawah. Siang itu cukup panas, untung saja perjalanan dari ciputat ke srengseng sawah gak jauh (heheh lebay deh). sekitar 30 menit akhirnya kita sampai dirumah juned. nah dari rumah juned inilah kita mulai start bersepeda ke Setu Babakan karena dari sini jaraknya tidak terlalu jauh. kata bang ombing kalau mulai bersepeda tripnya jangan terlalu jauh dulu step by step aja.

Penasaran banget sama sepedanya bang ombing. langsung aja ke gudang belakang sama bang juned untuk ambil sepedanya. pas ngeliat sepedanya, wowww keren, sepeda gunung berwarna hitam dengan stang warna putih ditambah ban sepeda yang ukurannya besar, kerenlah pokonya. baru sepeda dikeluarkan dari gudang langsung aja dicoba keliling-keliling rumah juned,heee.. mulai dari kebut-kebutan sampai jumping di sepeda saya coba..wahhh rasanya tak kalah seru dengan naik gunung. waktu menunjukkan pukul 14.30, saya langsung ganti kostum bersepeda. dengan kaos hitam, celana panjang,masker penutup muka, sepatu vans, dan pastinya tidak lupa helm untuk safety prosedur. saya pakai sepeda bang juned yang berwarna putih dan hitam. bang ombing pake sepeda andalannya.

semua perlengkepan sudah siap, waktunya goes sepeda. saya dan bang ombing langsung meluncur dengan cepat menuju Setu Babakan. yang paling seru diperjalanan adalah kalau ada "polisi tidur", pasti langsung saya tancap gas untuk jumpingin sepeda..beberapa kali dicoba akhirnya sedikit bisa. sempat kaget ngeliat bang ombing beraksi dengan sepeda gunungnya.. JUMP JUMP..sepedanya meluncur dengan cepat ngelompatin "polisi tidur", tuh spede melayang tinggi banget, sepedanya berjalan hanya dengan ban belakang saja dan posisi ban depan mengangkat tinggi keatas. "eh..ehh.ehh..awas hati2 ntar jatuh" kataku dengan nada teriak. ditambah lagi aksinya pas mau masuk ek jalan setu babakan, sepedanya melaju kenjang, jalanan rusak dihantam gutu saja..mantaplah, jadi pengen belajar kaya gitu deh aksinya, ajarin ya bang ombing?heee.

akhirnya sampai di setu babakan. kita langsung rest di depan danau dengan menikmati hangatnya kerak telor khas betawi. lengkap sudah perjalananku kali ini. setelah makan kami langsung jalan lagi. tadinya niat pengen nonton lenong di setu tapi gak keburu sudah selesai lenongnya. langsung aja deh meluncur pulang ke rumah juned, sebelum ke rumah juned mampir dulu ke rumah temannya bang ombing yang gak jauh dari setu babakan.

waktunya pulang sepanjang jalan saya terus mencoba jumpingin sepeda. "jangan terlalu diporsir, hati-hati, atur pernapasan" kata bang ombing yang terus menasehati seperti pak dosen, hee (piss bang, makasih ya). sampailah kita dijalan raya, semakin cepat laju sepeda ku goes. ternyata naek sepeda ada triknya loh, setiap kontur jalan beda-beda pemakaian "gig"i sepedanya. kalau dijalan raya katanya "giginya" lebih kecil supaya enak ngeGoes nya. tapi kalau dujalan bertanah, "giginya" dinaikin jadi lebih enteng. wah sepanjang jalan aku dapet ilmu yang tak terduga dari bang ombing, makasih ya bang.

alhamdulillah akhirnya sampai di rumah juned. badan berkeringat semua, baju celana basah semua tapi kerennn mantaplah pokonya. akhirnya bersepeda juga. makasih ya bang ombing udah nemenin bersepeda dengan sepedanya. makin tertarik aja pengen bersepeda, langsung aja saya,bang ombing, bang juned ngomongin untuk trip bersepeda selanjutnya. mulai dari bersepeda ke JALUR JPG, SUKAMANTRI sampai pengen bersepeda ke CIBODAS (CANTIGI). tapi kata mereka saya harus latihan fisik dulu, biasain bersepeda biar urat-urat kakinya gak kaget dan yang pastinya step by step. wahh saya pasti menyiapkan fisik untuk ke trip selanjutnya. bang ombing dan bang juned, aku tunggu janji kalian yg mau nemenin aku ke trip selanjutnya????ok..heee

Thanx to:
-Bang Ombing: maksih ya beib udah nemenin aku bersepeda
-Bang Juned: makasih untuk pinjaman sepedanya,hee
-Kiki, Yunus,Opah,Apri:makasih udah numpang bermalam dikos-kosan
-linda:makasih udah nemenin begadang dikos-kosan

Senin, 30 Mei 2011

Tips Bersepeda Di Lintasan Yang Basah/Hujan

Namanya saja Mountain Bike atau lebih sering disebut MTB, sudah bisa diduga dunk kemana perginya si sepeda ini berjalan seperti melintasi hutan, bukit, jalanan berlumpur, tanjakan&turunan curam, sungai, sepeda ini jagonya. Bukan cuma sekedar offroad saja tapi kita harus tahu bagaimana caranya bersepeda di lintasan yang tadi di sebutkan. Berikut tips bersepeda di lintasan yang basah atau hujan, tips ini saya kutip dari jpgmtbpark.wordpress.com:

cek tekanan angin ban…jangan terlalu keras ( depan 25- 30 psi – belakang 30 – 38 psi sesuai lebar ban, berat badan rider dan berat sepeda )…berikan pelumas yang agak banyak pada rantai sepeda


a. Saat melihat jalanan yang digenangi air, baiknya dilintasi saja jika ban kita sudah lengket oleh tanah yang seperti donut agar terlepas….dan lewati jalan yang berumput untuk melepas tumpukan tanah pada ban.

b. Saat melintasi jalan yang berlumpur usahakan hindari ke samping jika memungkinkan…atau lebih baik turun dari atas sepeda dan digotong saja…untuk menghindari trouble pada sepeda…atau jika ingin mencoba tetap melintasi pindahkan posisi chain ring gear depan ke posisi paling kecil, kemudian posisi sproket gear belakang ke gear paling kecil…..karena dengan posisi gear yang demikian otomatis posisi RD belakang menggantung ke atas….maka akan terhindar dari tercelup ke dalam air yang berlumpur….yang bisa mengakibatkan putus rantai atau RD patah karena putaran rantai akan tersendat akibat tumpukan tanah yang menyangkut pada selah RD….pelumasan pada rantai pun akan berkurang akibat terkena air dan tanah…..setelah melewati genangan tersebut kembalikan / ubah posisi gear anda sesuai dengan kondisi trek….sebaliknya ubah kembali saat melihat genangan lagi.

c. Saat tanjakan curam lebih utamakan torsi dan RPM yang stabil / putaran yang bulat sesuai tenaga masing-masing untuk menjaga traksi ban belakang….posisi badan duduk tetap pada ujung sadle sampai ujung tanjakan…karena jika posisi kita berdiri saat menanjak di trek basah “tipis” kemungkinan kita dapat melalui bisa sampai di ujung tanjakan tersebut karena ban belakang kehilangan traksi…torsi hanya bisa didapatkan dari latihan strength, RPM yang tinggi min. 120 rpm, interval, sprint….

d. Saat turunan manfaatkan rem depan 60 – 70 %…rem belakang 40 % – 30 %…jangan panic jika sepeda meluncur terlalu cepat…jangan ditekan ke 2 rem sampai 100 % yang mengakibatkan jatuh yang beresiko tinggi….lebih baik jika panic rem 100 % di bawah setelah melalui turunan agar tidak jatuh salto atau terjatuh slide…jika mental tidak siap masih ragu – ragu lebih baik tuntun TTB…sah sah saja…pembalap berpengalaman pun masih beresiko terjatuh saat turunan licin…” BAIKNYA TETAP DIPELAJARI DAN DICOBA SEPELAN MUNGKIN”

Off road memang mengasyikkan tapi kita juga harus tahu bagaimana cara yang benar mengendarainya agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi. selamat mencoba dan berlatih goweser..










Kamis, 26 Mei 2011

Si Hanoman Bodas


Ini dia Si Hanoman Bodasku.

Sekujur tubuhnya dilapisi warna putih hitam yang kekar dan tangguh. Tidak pernah mengeluh melewati jalan berlumpur, batu-batu cadas, sungai, hutan, tanjakan&turunan yang terjal, dan panjangnya perjalanan yang tak kunjung habis.

Aku tidak akan bosan akan mengajakmu berkeliling ke tempat yang indah. Are you ready to the next amazing journey? ?